Mengambil I'tibar di Tahun Baru Islam 1447 Hijriah
Andryanto Wisnuwidodo
Senin, 30 Juni 2025, 08:31 WIB
Umat Islam diharapkan mengambil i’tibar Tahun Baru Islam 1447 Hijriah dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Tahun Baru 1447 Hijriah: Momentum Hijrah Menuju Hidup Lebih Baik
Umat Islam memasuki
Tahun Baru Islam 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 27 Juni 2025. Menteri Agama Nasaruddin Umar pun mengucapkan Selamat Tahun Baru 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam.
Tahun baru hijriah diambil dari momentum hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah lebih dari 14 abad lalu. Peristiwa ini membawa makna mendalam bagi perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Islam kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.
Baca juga: Benarkah Menikah di Bulan Muharram Atau Bulan Suro Dilarang? Menag Nasaruddin berharap hijrah bisa menjadi momentum tidak semata berpindah tempat dan waktu, tapi juga arah dan tujuan hidup yang lebih baik dan berkualitas. Menag mengutip salah satu pesan Al-Quran, Surah At-Taubah ayat 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih agung derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
“
Hijrah dalam ayat ini bukan sekadar berpindah tempat, tapi berpindah arah. Dari gelap ke terang
”
Nasaruddin Umar
“Hijrah dalam ayat ini bukan sekadar berpindah tempat, tapi berpindah arah. Dari gelap ke terang. Dari stagnan ke tumbuh. Dari biasa-biasa saja ke luar biasa dalam nilai dan kontribusi,” pesan Menag di Jakarta, Kamis (26/6/2025).
“Hari ini, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sudah sejauh mana kita berhijrah dari rutinitas yang kering makna menuju amal yang bernilai? Sudahkah kita membawa Islam tidak hanya di kartu identitas, tapi juga dalam kejujuran, dalam kasih sayang, dalam tindakan sehari-hari?,” lanjutnya.
Tahun Baru Islam, kata Menag, tidak datang dengan kemeriahan pesta. Ia hadir dalam sunyi, dalam zikir, dan dalam refleksi yang hening. Menurut Menag, di situlah kekuatannya. Sebab, perubahan besar sering dimulai dari perenungan yang paling dalam.
“Di banyak daerah di Indonesia, Muharam dirayakan dengan cara yang indah. Ada Tabuik di Pariaman, Grebeg Suro di Jawa, doa bersama di kampung-kampung. Semua itu menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal kita tidak saling meniadakan, justru saling menguatkan,” paparnya.
“Kementerian Agama memandang inilah kekayaan kita. Islam yang membumi, Islam yang mewangi tanpa kehilangan kemurniannya. Maka tugas kita hari ini bukan hanya menjaga ritual, tapi menjaga makna. Bukan hanya mengingat peristiwa hijrah, tapi menghidupkan semangat hijrah dalam kehidupan nyata, baik di ruang keluarga, pendidikan, birokrasi, maupun media sosial,” sambungnya.
Menag mengajak seluruh umat Islam Indonesia untuk menyambut tahun ini dengan tiga kata kunci: Pertama, bersyukur, karena kita masih diberi umur dan kesempatan. Kedua, berhijrah, karena stagnasi adalah musuh masa depan. Ketiga, berkontribusi, karena iman yang sejati harus tampak dalam tindakan.“Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Semoga hijrah kita bukan hanya berpindah waktu, tapi berpindah kualitas hidup,” tandasnya.
Memulai Babak Baru dengan Introspeksi Perilaku yang Baik
Umat muslim memasuki pergantian
tahun baru Islam atau hijriah. Bulan Muharram datang kepada kita yaitu bulan dimana permulaan tahun hijriah dimulai. Artinya kita telah berada pada tahun baru lagi, yaitu tahun 1447 Hijriah yang harus dihadapi dengan hati-hati seraya berpedoman dengan pengalaman-pengalaman tahun lampau.
Segala amal perbuatan tahun lalu yang tidak patut hendaknya dijauhi dan dihindari. Selanjutnya bersiap-siap memulai babak baru yang harus bisa diwarnai dengan perilaku yang baik serta terpuji dan bermanfaat.
Itulah langkah kita di dalam setiap memasuki tahun baru Islam. Melakukan instropeksi diri pada diri kita sendiri serta mengevaluasi semua perbuatan tahun lampau untuk diperbaiki pada tahun berikutnya. Sehingga dengan demikian semakin tua umur kita semakin baik dan sempurna amal kita. Begitulah tujuan kita hidup dari tahun ke tahun, diberi umur panjang dengan disertai amal baik.
Baca Juga: Momen 1 Muharram 1447 Hijriah, Menag Soroti Degradasi Kualitas Individu Umat Umat Islam diharapkan dapat mengambil i’tibar atau Pelajaran yang sangat berarti dengan peristiwa hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Makah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peringatan Tahun Baru Islam Muharram ini kita jadikan momentum untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik sebagai insan yang bertakwa.
Tahun baru hijriah diperingati agar umat Islam mampu mengambil i’tibar (pelajaran) dari peristiwa tersebut. Peristiwa sejarah hijrah sendiri mengandung makna bahwa umat Islam bisa melakukan perjalanan fisik dari satu daerah ke daerah lain. Hijrah fisik menjadi pilihan manakala di tempat lama umat Islam kesulitan mengembangkan inovasi, kreasi dan membangun peradabannya.
Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”. Meski sebetulnya kejadian hijrah Rasulullah tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yastrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal.
Namun pemahaman bulan Muharram sebagai bulan Hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qamariyah yang oleh Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dijadikan titik awal mula kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah adalah titik balik dalam sejarah peradaban Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan juga bermakna perubahan besar dalam strategi dakwah dan pembentukan masyarakat Islam yang berlandaskan nilai-nilai luhur.
Di Madinah, Nabi Muhammad SAW membangun kehidupan umat Muslim dengan menyusun dasar-dasar pemerintahan yang adil dan bijaksana. Piagam Madinah, yang merupakan konstitusi pertama dalam sejarah Islam, menjadi bukti nyata keberhasilan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam mempersatukan berbagai kelompok masyarakat.
Asal-usul Muharram Bulan Pertama dalam Kalender Hijriah
Dalam Islam,
Muharam menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah yang terdiri dari 12 bulan. Kata Muharam berasal dari bahasa Arab "Harrama-Yuharrimu-Tahriiman-Muharrimun-wa-Muharramun", yang memiliki makna "diharamkan". Karenanya, bulan Muharram dianggap suci dan hendaknya dijauhkan dari perbuatan buruk.
Berdasarkan keterangan Bimas Islam Kementerian Agama RI, 1 Muharam 1447 Hijriah jatuh pada 27 Juni 2025. Menurut Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama RI, Arsad Hidayat, posisi hilal pada tanggal 29 Dzulhijah 1446 H yang bertepatan pada tanggal 25 Juni 2025 M berada antara -2° 37,04' (minus 2 derajat 37,04 menit) hingga 0° 11,13' (0 derajat 11,13 menit), dengan sudut elongasi antara 4° 53,72' (4 derajat 53,72 menit) hingga 5° 1,80' (5 derajat 1,80 menit).
Baca Juga: Makna Hijrah, Momentum Transformasi Spiritual, Intelektual dan Sosial Posisi hilal tersebut tidak memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat, sehingga bulan Dzulhijah 1446 H diistikmalkan atau disempurnakan menjadi 30 hari. Oleh karena itu, Arsad menjelaskan, bahwa 1 Muharam 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 27 Juni 2025.
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejarah 1 Muharam adalah tanda peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Dalam kitab Fathul-Baari, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan asal muasal lahirnya penanggalan Hijriah. Sejarah tersebut diawali ketika Gubernur Abu Musa Al-Asyari mengirimkan surat kepada Khalifah Umar Bin Khattab pada tahun 17 Hijriah.
Pada saat itu, ia mengungkapkan kebingungannya perihal surat yang tidak memiliki tahun. Muslim pada masa itu masih mengadopsi peradaban Arab dalam melakukan penanggalan, yaitu hanya dengan menuliskan bulan dan tanggal tanpa ada tahun di dalamnya. Hal tersebut kemudian menyulitkan Sang Gubernur ketika akan melakukan pengarsipan dokumen. Melalui keresahan tersebut, muncullah gagasan awal penetapan kalender Islam.
Larangan yang Tak Boleh Dilakukan Umat Muslim di Bulan Muharram
Bulan
Muharram adalah salah satu bulan suci yang dianggap sakral oleh umat Islam, dan menjadi bulan yang istimewa. Karenanya ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan oleh umat muslim di bulan tersebut. Apa saja larangan-larangannya?
Bagi Umat Islam Sebagai awal bulan di Tahun Baru Hijriah, Muharram dianggap sebagai bulan yang penuh keberkahan karena di dalamnya terdapat hari Asyura pada tanggal 10 Muharam, yang dianggap memiliki keutamaan khusus. Untuk itu, pada bulan Muharam umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca Juga: 3 Amalan Bertabur Pahala di Hari Asyura, Apa Saja? Namun, ada juga sejumlah larangan di bulan Muharram yang penting diketahui umat Islam. Antara lain:
1. Larangan untuk Berperang Peperangan merupakan salah satu tindakan yang dilarang dalam bulan Muharram dan dilarang pula pada bulan suci kalender Islam, seperti Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Maka dari itu, hendaknya seorang muslim untuk menghindari perselisihan atau konflik yang merugikan orang lain, terlebih yang mengacu kepada tindakan peperangan.
2. Larangan Melakukan Tindak Kekerasan Memasuki bulan suci Muharram, seorang Muslim dilarang untuk melakukan tindak kekerasan, baik kepada sesama Muslim maupun kepada orang lain yang berbeda agama dan keyakinan. Sebagai seorang Muslim kita harus meneladani akhlak Rasulullah SAW yang selalu bersikap lembut, sabar, dan adil kepada semua orang.
3. Larangan Membunuh Hewan untuk Tujuan Hiburan Membunuh hewan untuk tujuan hiburan adalah salah satu hal yang dilarang dilakukan di bulan Muharram. Ini karena hewan harus diperlakukan dengan belas kasihan dan tidak boleh disakiti tanpa alasan yang benar, terutama di bulan suci ini. Selain itu, membunuh hewan untuk hiburan juga bertentangan dengan syiar-syiar kesucian Allah dan bulan-bulan haram. Oleh karena itu, sebaiknya kita menghindari perbuatan tersebut dan lebih menghormati makhluk hidup yang Allah ciptakan.
4. Larangan Melakukan Suatu Hal yang Tidak Bermanfaat Larangan untuk tidak melakukan suatu hal yang tidak bermanfaat sangat ditekankan pada bulan Muharram. Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan agama.
5. Larangan Berkata Kasar di Bulan Muharram Berucap kasar adalah perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, apalagi di bulan Muharam yang penuh berkah. Berkata kasar bisa merusak hubungan antara sesama manusia, menimbulkan permusuhan, dan menyakiti hati orang lain. Berucap kasar juga termasuk dalam bentuk peperangan atau pertumpahan darah secara verbal, yang dilarang oleh Allah SWT di bulan Muharam. Sehingga tindakan yang satu ini wajib dihindari oleh Umat Islam.
6. Dilarang Menzalimi Diri Sendiri Menzalimi diri sendiri juga merupakan suatu tindakan yang dilarang Umat Islam. Menzalimi diri sendiri bisa berarti melakukan maksiat, menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, atau berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوۡرِ عِنۡدَ اللّٰهِ اثۡنَا عَشَرَ شَهۡرًا فِىۡ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوۡمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ مِنۡهَاۤ اَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ ؕ ذٰ لِكَ الدِّيۡنُ الۡقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظۡلِمُوۡا فِيۡهِنَّ اَنۡفُسَكُمۡ ؕ وَقَاتِلُوا الۡمُشۡرِكِيۡنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوۡنَكُمۡ كَآفَّةً ؕ وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الۡمُتَّقِيۡنَ
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS. At-Taubah: 36)
Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari
Follow
Author
Andryanto Wisnuwidodo