Link Copied
Aksesi NATO Finlandia dan Swedia, Didukung AS Diganjal Ankara

Aksesi NATO Finlandia dan Swedia, Didukung AS Diganjal Ankara

By Mohammad Faizal
Kendati didukung Amerika dan Eropa, keinginan Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) masih terganjal syarat Ankara.

Gertak Rusia Atas Aksesi NATO Finlandia dan Swedia

Gertak Rusia Atas Aksesi NATO Finlandia dan Swedia


Rusia mengancam akan mengerahkan senjata nuklir ke wilayahnya di kawasan Baltik sebagai respons awal setelah Finlandia dan Swedia berencana untuk bergabung dengan NATO.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Glushko mengatakan, langkah dua negara Skandinavia itu tidak akan dibiarkan tanpa respons Moskow. Hanya saja, kata Glushko, masih terlalu dini untuk membicarakan respons tersebut termasuk relokasi senjata nuklir lebih dekat ke wilayah dua negara Nordik tersebut.

"Terlalu dini untuk membicarakan hal ini," kata Glushko kepada wartawan pada hari Jumat ketika ditanya apakah keanggotaan Helsinki dan Stockholm dalam NATO dapat mendorong Moskow untuk menempatkan nuklirnya di wilayah Baltik.

Baik Finlandia dan Swedia tetap berada di luar NATO selama Perang Dingin. Namun, negara-negara tetangga Moskow itu mempertimbangkan kembali sikap mereka setelah operasi militer khusus Rusia di Ukraina pada akhir Februari.

Glushko menekankan bahwa dengan menjadi anggota NATO, Finlandia dan Swedia akan benar-benar menyerah pada status non-nuklir mereka. "Negara-negara itu akan berpartisipasi dalam kelompok perencanaan nuklir NATO, meskipun selama beberapa dekade mendorong non-proliferasi dan penghancuran senjata semacam itu," katanya, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (14/5/2022).

Menurutnya, ekspansi NATO menuju perbatasan Rusia dipandang sebagai ancaman besar oleh Moskow dan penambahan anggota baru, jika itu terjadi, akan ditanggapi dengan tindakan balasan yang tepat oleh Moskow. "Keputusan atas tindakan pencegahan tersebut jelas, tidak akan emosional, tetapi berdasarkan analisis menyeluruh dan terkalibrasi dari semua faktor yang memengaruhi situasi keamanan di kawasan ini,” katanya.

Rusia, imbuh Glushko, tidak melihat alasan apapun bagi Finlandia dan Swedia untuk mencari keanggotaan NATO karena Moskow tidak memiliki niat bermusuhan terhadap negara-negara tersebut.

Tak Gentar, Finlandia dan Swedia Resmi Daftar Gabung ke NATO

Tak Gentar, Finlandia dan Swedia Resmi Daftar Gabung ke NATO


Setelah melalui proses cukup lama, Finlandia dan Swedia secara resmi mendaftar untuk bergabung dengan NATO (North Atlantic Treaty Organization) pada Rabu (18/5/2022). Keputusan ini diyakini akan segera diikuti proses aksesi yang diperkirakan akan memakan waktu hanya beberapa minggu.

Keputusan Swedia dan Finlandia yang sama-sama netral selama Perang Dingin untuk bergabung dengan aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu disebut sebagai salah satu perubahan signifikan dalam arsitektur keamanan Eropa selama beberapa dekade.

Tak dimungkiri, langkah kedua negara itu juga sangat dipengaruhi oleh invasi Rusia ke Ukraina 24 Februari lalu. Kedua negara Nordik tersebut diyakini mencoba meningkatkan rasa aman dengan bergabung dengan aliansi tersebut.

Finlandia yang berbagi perbatasan sepanjang 1.300 km dengan Rusia, dan juga Swedia telah diguncang oleh operasi militer Moskow ke Ukraina. Kenaggotaan pada aliansi itu akan menjadi sebuah pertahanan terhadap agresi yang ditakutkan dari Rusia.

"Ini adalah momen bersejarah, yang harus kita manfaatkan," kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada upacara singkat di mana duta besar Swedia dan Finlandia untuk aliansi itu menyerahkan surat lamaran mereka.

"Saya menyambut hangat permintaan Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO. Anda adalah mitra terdekat kami, dan keanggotaan Anda di NATO akan meningkatkan keamanan bersama kami," kata Stoltenberg, seperti dikutip dari Channel News Asia. Keanggotaan Finlandia dan Swedia pun diyakini akan sangat memperkuat aliansi tersebut di Laut Baltik.

Di bagian lain, Presiden Rusia Vladimir Putin kerap memperingatkan bahwa ekspansi NATO dapat memicu tanggapan dari Moskow. Putin telah berulang kali menyebut perluasan aliansi NATO pasca-Soviet ke arah timur menuju perbatasan Rusia sebagai alasan konflik Ukraina.

Namun, Putin juga mengatakan bahwa tidak ada ancaman bagi Rusia jika Swedia dan Finlandia bergabung dengan NATO. Namun, ia memperingatkan bahwa Moskow akan merespons jika aliansi itu mendukung infrastruktur militer di anggota barunya.

Janji Finlandia: Tak Akan Tempatkan Nuklir di Depan Pintu Rusia

Janji Finlandia: Tak Akan Tempatkan Nuklir di Depan Pintu Rusia


Rencana Finlandia dan Swedia untuk menjadi anggota NATO telah memicu reaksi Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Finlandia bahwa bergabung dengan NATO dan meninggalkan status netral adalah sebuah kesalahan.

Keinginan Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan NATO tumbuh setelah Rusia menginvasi Ukraina Februari lalu. Kekhawatira kedua negara itu terus tumbuh kendati Rusia menegaskan tak ada ancaman dari mereka kepada dua negara Nordik tersebut.

Menanggapi sikap tetangganya, Perdana Menteri (PM) Finlandia Sanna Marin mengatakan bahwa bergabung dengan NATO tidak berarti negaranya akan menjadi tuan rumah bagi senjata nuklir aliansi militer tersebut.

Marin juga menegaskan, negara yang berbagi perbatasan sepanjang 830 mil dengan Rusia itu tidak tertarik memiliki senjata nuklir atau pun menjadi pangkalan NATO permanen.

Hal itu ditegaskan Marin dalam wawancaranya dengan surat kabar Italia, Corriere DellaSerra, segera setelah Finlandia dan Swedia mengajukan aplikasi atau lamaran mereka untuk menjadi anggota aliansi militer NATO.

Marin ditanya tentang komentar PM Swedia Magdalena Andersson bahwa negaranya tidak ingin pangkalan NATO permanen atau senjata nuklir ada di wilayahnya bahkan jika diterima untuk bergabung.

Penegasan Marin kurang kuat daripada Andersson dalam wawancara tersebut. Akan tetapi dia mengatakan bahwa Finlandia kemungkinan besar merasakan hal yang sama, dan bahwa keputusan itu akan diambil oleh Finlandia dan tidak dipaksakan oleh negara lain.

"Ini bukan debat yang sebenarnya, topiknya bukan bagian dari negosiasi. Ini adalah keputusan nasional. Tidak ada yang akan datang kepada kami untuk memaksakan senjata nuklir atau pangkalan permanen jika kami tidak menginginkannya," tegas dia.

"Jadi saya pikir topik ini tidak ada dalam agenda. Bahkan sepertinya tidak ada minat untuk menyebarkan senjata nuklir atau membuka pangkalan NATO di Finlandia," paparnya, seperti dikutip IB Times, Jumat (20/5/2022).

Turki, Ganjalan Utama Finlandia dan Swedia Bergabung ke NATO

Turki, Ganjalan Utama Finlandia dan Swedia Bergabung ke NATO


Asa Swedia dan Finlandia untuk segera bergabung ke dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) masih terganjal penolakan dari Ankara. Permohonan keanggotaan kedua negara itu diterima dengan hangat di Washington dan oleh para pemimpin NATO Eropa, kecuali Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Kroasia Zoran Milanovic.

Setelah pembicaraan di Ankara pada hari Rabu, juru bicara pemerintah Turki Ibrahim Kalin mengatakan bahwa pemerintahnya tidak akan mengizinkan Finlandia dan Swedia ke dalam aliansi NATO sampai kekhawatiran keamanan "konkret" Turki mengenai terorisme dan sanksi terpenuhi.

Kalin menambahkan bahwa Ankara tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan sebelum pertemuan NATO berikutnya. Delegasi dari Swedia dan Finlandia bertemu dengan rekan-rekannya dari Turki di Ankara selama lima jam pembicaraan menyusul permohonan bersama mereka untuk bergabung dengan aliansi militer NATO pekan lalu.

Aksesi Swedia dan Finlandia membutuhkan persetujuan bulat dari semua 30 negara anggota NATO. Turki telah mengancam akan memblokir proses tersebut kecuali kedua negara itu menindak kelompok yang dianggap teroris oleh Ankara.

"Tanpa memenuhi masalah keamanan Turki, proses apa pun tentang ekspansi NATO tidak dapat dilanjutkan," kata Kalin pada konferensi pers setelah pembicaraan.

"NATO adalah organisasi keamanan," tegasnya, menambahkan bahwa ini berarti aliansi harus memastikan bahwa masalah keamanan negara-negara anggotanya terpenuhi secara setara dan adil seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (26/5/2022).

Turki telah menuntut agar Swedia dan Finlandia mencabut pembatasan ekspor senjata ke Turki, dan mereka mengekstradisi orang-orang yang terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan gerakan Gulen (FETO).

Swedia dan Finlandia sama-sama telah menganggap PKK sebagai organisasi teroris. Namun, Turki juga menuntut agar mereka menerapkan sebutan yang sama untuk YPG dan PYD, masing-masing kelompok militer dan politik Kurdi di Suriah.

Kalin mengatakan bahwa Turki sedang menekan Swedia untuk menindak para simpatisan PKK domestik dan pendanaan serta media milik mereka yang masih beroperasi. Swedia khususnya telah dipilih oleh Turki, dengan Ankara menuduh Stockholm mempersenjatai Kurdi dengan senjata anti-tank, yang digunakan dalam konflik perbatasan Kurdi yang sedang berlangsung dengan Turki.

Pejabat Swedia dan Finlandia sekarang akan kembali ke ibu kota mereka untuk membahas tuntutan Turki. Kalin mengatakan bahwa proses keanggotaan untuk kedua negara Nordik hanya dapat berlanjut dengan cara yang akan mengatasi masalah keamanan Turki.

Para pemimpin NATO akan bertemu di Madrid, Spanyol, pada akhir bulan depan, tetapi Kalin menyatakan bahwa Turki tidak berada di bawah tekanan waktu untuk mencapai kesepakatan dengan Swedia dan Finlandia.

Selain Turki, negara NATO lainnya yang ingin memblokir Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan aliansi militer tersebut adalah Kroasia. Presiden Kroasia Zoran Milanovic menginstruksikan Duta Besar Mario Nobilo, perwakilan tetap negara itu untuk NATO, untuk memblokir aksesi Finlandia dan Swedia.

Milanovic mengatakan menolak persetujuan akan mengalihkan perhatian masyarakat internasional pada masalah yang dihadapi etnis Kroasia di negara tetangga Bosnia dan Herzegovina.
(fai)