Belajar dari Bencana Sumatera
Senin, 08 Desember 2025 - 06:59 WIB
Banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi yakni, Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). ilustrasi/maspuq
Duka menyelimuti Sumatera. Banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi di pulau tersebut yakni, Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (7/12/2025) jumlah korban meninggal dunia mencapai 921 orang, sedangkan 392 orang masih dinyatakan hilang, dan 975.079 jiwa mengungsi. Sementara 4.200 orang terluka.
Selain itu, 1.300 fasilitas umum rusak, 199 fasilitas kesehatan, dan 697 fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Termasuk 420 rumah ibadah, 234 gedung atau kantor dan 405 jembatan rusak.
Musibah yang merenggut ratusan korban jiwa dan meluluhlantakan tiga provinsi secara bersamaan ini disinyalir bukan saja disebabkan faktor alam. Tapi juga karena rusaknya hutan akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan permukiman.
Akibatnya, saat hujan ekstrem yang dipicu Siklon Tropis Senyar mengguyur Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, pada 25-27 November 2025, hutan tidak lagi mampu menahan dan menyerap tumpahan air hujan yang sedemikian banyak. Hal ini menyebabkan bencana hidrometeorologi sangat besar terjadi di tiga provinsi tersebut.
Data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (7/12/2025) jumlah korban meninggal dunia mencapai 921 orang, sedangkan 392 orang masih dinyatakan hilang, dan 975.079 jiwa mengungsi. Sementara 4.200 orang terluka.
Selain itu, 1.300 fasilitas umum rusak, 199 fasilitas kesehatan, dan 697 fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Termasuk 420 rumah ibadah, 234 gedung atau kantor dan 405 jembatan rusak.
Musibah yang merenggut ratusan korban jiwa dan meluluhlantakan tiga provinsi secara bersamaan ini disinyalir bukan saja disebabkan faktor alam. Tapi juga karena rusaknya hutan akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan permukiman.
Akibatnya, saat hujan ekstrem yang dipicu Siklon Tropis Senyar mengguyur Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, pada 25-27 November 2025, hutan tidak lagi mampu menahan dan menyerap tumpahan air hujan yang sedemikian banyak. Hal ini menyebabkan bencana hidrometeorologi sangat besar terjadi di tiga provinsi tersebut.