Mungkinkah China dan Jepang Kembali Berperang?
Rabu, 03 Desember 2025 - 15:20 WIB
Mungkinkah China dan Jepang kembali berperang?
Foto/Grok
Pemerintah baru Jepang tampaknya berniat memulai konflik besar di Indo-Pasifik—di saat mereka maupun sekutu Amerika mereka tidak mampu menanggung perang semacam itu. Kali ini, konfliknya adalah Taiwan.
Sebaliknya, Amerika Serikat, setelah kalah dalam Perang Global Melawan Terorisme dan hampir kalah dalam perang proksi yang diprovokasinya dengan Rusia, bersiap untuk memulai perang proksi lain yang kalah antara Jepang (dan Taiwan) dan China.
Republik Rakyat China adalah negara musuh. Namun, cara untuk menantang dan mengalahkan China di panggung global bukanlah melalui ranah militer. Hal ini berada dalam ranah geoekonomi. Amerika Serikat dan sekutu regionalnya harus menggunakan instrumen ekonomi mereka yang mumpuni untuk menyusun strategi kompetitif—seperti memanfaatkan perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan lainnya—untuk menciptakan kondisi positif bagi tujuan geopolitik mereka secara keseluruhan.
"Sayangnya, Barat telah meninggalkan statecraft ekonomi demi kekuatan brutal. Sebagaimana yang akhirnya dilakukan Uni Soviet. Dan, seperti Uni Soviet sebelumnya, Amerika Serikat akan kalah dalam pertempuran semacam itu (baik proksi maupun lainnya) melawan China, sebagaimana kekalahannya dari Rusia di Ukraina," ungkap Brandon J. Weichert, analis geopolitik Asia Pasifik, dilansir The National Interest.
Pemerintah baru Jepang tampaknya berniat memulai konflik besar di Indo-Pasifik—di saat mereka maupun sekutu Amerika mereka tidak mampu menanggung perang semacam itu. Kali ini, konfliknya adalah Taiwan.
Sebaliknya, Amerika Serikat, setelah kalah dalam Perang Global Melawan Terorisme dan hampir kalah dalam perang proksi yang diprovokasinya dengan Rusia, bersiap untuk memulai perang proksi lain yang kalah antara Jepang (dan Taiwan) dan China.
Republik Rakyat China adalah negara musuh. Namun, cara untuk menantang dan mengalahkan China di panggung global bukanlah melalui ranah militer. Hal ini berada dalam ranah geoekonomi. Amerika Serikat dan sekutu regionalnya harus menggunakan instrumen ekonomi mereka yang mumpuni untuk menyusun strategi kompetitif—seperti memanfaatkan perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan lainnya—untuk menciptakan kondisi positif bagi tujuan geopolitik mereka secara keseluruhan.
"Sayangnya, Barat telah meninggalkan statecraft ekonomi demi kekuatan brutal. Sebagaimana yang akhirnya dilakukan Uni Soviet. Dan, seperti Uni Soviet sebelumnya, Amerika Serikat akan kalah dalam pertempuran semacam itu (baik proksi maupun lainnya) melawan China, sebagaimana kekalahannya dari Rusia di Ukraina," ungkap Brandon J. Weichert, analis geopolitik Asia Pasifik, dilansir The National Interest.