Mungkinkah Zohran Mamdani Jadi Presiden AS?
Selasa, 11 November 2025 - 17:17 WIB
Mungkinkah Zohran Mamdani jadi Presiden AS?
Foto/X/@ZohranKMamdani
Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota New York baru-baru ini telah memicu perbincangan di seluruh dunia. Terlepas dari kemenangan politiknya, batasan konstitusional membuatnya tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden, karena ia adalah warga negara naturalisasi kelahiran Uganda.
Meskipun agenda progresifnya disambut baik oleh banyak orang, agenda tersebut juga menghadapi pertentangan keras dalam skala yang lebih luas.
Kemenangan gemilang Zohran Mamdani dalam pemilihan wali kota New York telah memicu reaksi keras di seluruh Amerika Serikat dan di platform media sosial. Bagi banyak pemilih Demokrat, ia tampak seperti Barack Obama berikutnya, dan bagi generasi pertama TikTok, ia karismatik, muda, dan berani tanpa ragu.
Namun, meskipun Mamdani telah menerima lebih dari 50 persen suara di kota terbesar di negara ini, ia tidak akan dapat mencalonkan diri untuk posisi tertinggi -- Presiden Amerika Serikat. Dan alasannya bukan terletak pada politik, agama, atau ideologi, melainkan pada Konstitusi itu sendiri.
Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota New York baru-baru ini telah memicu perbincangan di seluruh dunia. Terlepas dari kemenangan politiknya, batasan konstitusional membuatnya tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden, karena ia adalah warga negara naturalisasi kelahiran Uganda.
Meskipun agenda progresifnya disambut baik oleh banyak orang, agenda tersebut juga menghadapi pertentangan keras dalam skala yang lebih luas.
Kemenangan gemilang Zohran Mamdani dalam pemilihan wali kota New York telah memicu reaksi keras di seluruh Amerika Serikat dan di platform media sosial. Bagi banyak pemilih Demokrat, ia tampak seperti Barack Obama berikutnya, dan bagi generasi pertama TikTok, ia karismatik, muda, dan berani tanpa ragu.
Namun, meskipun Mamdani telah menerima lebih dari 50 persen suara di kota terbesar di negara ini, ia tidak akan dapat mencalonkan diri untuk posisi tertinggi -- Presiden Amerika Serikat. Dan alasannya bukan terletak pada politik, agama, atau ideologi, melainkan pada Konstitusi itu sendiri.