Nasib Kelas Menengah RI, Mesin Ekonomi yang Kini Tergencet
Kamis, 09 Juli 2026 - 07:21 WIB
Nasib Kelas Menengah RI, Mesin Ekonomi yang Kini Tergencet
Kelas menengah yang dulu menjadi mesin pertumbuhan kini berkurang drastis, daya beli menurun, dan konsumsi domestik terancam. Melihat data terkini, jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,3 juta pada 2021 menjadi 46,7 juta pada 2025. Kondisi ini berarti proporsi mereka dalam total populasi jatuh dari 21,5% menjadi hanya 16,6%.
Angka penyusutan jumlah kelas menengah tidak bisa dianggap angin lalu, mengingat kontribusinya terhadap konsumsi nasional mencapai sekitar 81,5%. Jadi setiap penurunan di segmen ini langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Menjadi kelas menengah sangat sulit karena posisi mereka yang selalu terhimpit di antara kelas atas dengan banyak stimulus dan kelas bawah yang masih dapat bantuan. Karena dianggap mirip kelas atas, mereka tidak lagi menerima kebijakan dukungan khusus.
Akibatnya tekanan biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian kerja mulai menggerus daya beli kelompok ini. Terkikisnya daya beli kelas menengah menjadi ancaman serius bagi ekonomi Indonesia, karena mereka merupakan konsumen utama yang mendorong roda perekonomian domestik.
Alumnus Pasca Sarjana FEB UI, pengamat kebijakan publik, dan pegiat media di Indonesian Institute of Journal, Umar Idris dalam tulisannya sempat menerangkan, krisis merayap sedang terjadi di Indonesia saat ini. Fenomena pelemahan daya tahan ekonomi kelas menengah menjadi salah satu indikatornya.
Angka penyusutan jumlah kelas menengah tidak bisa dianggap angin lalu, mengingat kontribusinya terhadap konsumsi nasional mencapai sekitar 81,5%. Jadi setiap penurunan di segmen ini langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Menjadi kelas menengah sangat sulit karena posisi mereka yang selalu terhimpit di antara kelas atas dengan banyak stimulus dan kelas bawah yang masih dapat bantuan. Karena dianggap mirip kelas atas, mereka tidak lagi menerima kebijakan dukungan khusus.
Akibatnya tekanan biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian kerja mulai menggerus daya beli kelompok ini. Terkikisnya daya beli kelas menengah menjadi ancaman serius bagi ekonomi Indonesia, karena mereka merupakan konsumen utama yang mendorong roda perekonomian domestik.
Alumnus Pasca Sarjana FEB UI, pengamat kebijakan publik, dan pegiat media di Indonesian Institute of Journal, Umar Idris dalam tulisannya sempat menerangkan, krisis merayap sedang terjadi di Indonesia saat ini. Fenomena pelemahan daya tahan ekonomi kelas menengah menjadi salah satu indikatornya.